[Dia dan jabatan skolioser–nya.]
Alhamdulillah, akhirnya Allah swt. memberikan kesempatan cewe ini untuk hidup dan bernapas di dunia. Lahir dari seorang bapak ganteng dan ibu cantik ini juga mengarang kisah hidupnya disini. Rifqi Tsania Rachmawati namanya. Tiap hari, dipanggilnya kiki, kican, tsania, wati pun bisa. Statusnya udah menginjak SMA tapi sifatnya gak ada dewasanya. Suka teriak, cengeng, childish, bikin orang kesel tiap hari, tapi ada aja yang kangen, mwehe:p. Lahir di kota tepian, tanggal 17 dikurang 5, berzodiak aries, generasi '02. Motto hidupnya adalah makan, makan, makan, foto, jalan. Sesimple itu udah bikin dia bahagia.
Tapi, kata bahagia itu ga berlaku sama fisiknya. Kata kasarnya sih "cacat" tapi "berpenampilan" seperti teman sebayanya. Normal dan masih menaruh perasaan untuk orang lain, ehem:). Sudah kurung 2 tahun dia mengisi nama jabatannya sebagai seorang skolioser atau orang berkelainan skoliosis, penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh sekecil obat, tapi sebuah penyangga atau kata orang yakni braces. Umumnya, pengidap skoliosis kebanyakan tidak seratus persen sembuh total dan bahkan menempel hidup selama-lamanya. Benar aja, dia malah sedih ngelihat badannya yang mungil karena harapan dia ingin tinggi malah pupus. Memang, pertumbuhan tulang untuk bisa tinggi sebagai skolioser agak melambat dari orang kebanyakan.
Awal diberi tahu kalau dia di diagnosa, rasanya hopeless banget dan ngerasa useless ke siapapun. Dulu, dia sering ngelihat dan baca-bacain berbagai cerita gimana keadaan orang berpenyakit skoliosis di internet, yang pasti reaksinya kaget dan gak mau hal kayak gitu terjadi ke doi. Tapi eh tapi, Allah ngasi rencana luar dugaan, ternyata penyakit itu malah jatuh ke dirinya. Rasanya campur aduk. Nangis, nangis, nangis, dan mau gak mau nahan kecewa. Kadang dia juga ngerasa hidup ini gak adil dan always bertanya kenapa Tuhan ngasi cobaan kayak gini ke dirinya. Setiap doa selalu ia mohonkan dan berharap ada keajaiban terjadi buat kesembuhannya. Atas semua kesedihan itu, dia atasi kesehariannya dengan senyuman untuk membuat dirinya dan orang lain bahagia seakan-akan gak terjadi apa-apa.
Kalo orang tanya gimana hidup jadi seorang skolioser? Jawabannya gak nyaman. Gak nyaman ketika kata "berbeda dari lain" itu kadang selalu berlalu-lalang di hati doi sampai bisa ngedown tiba-tiba. Ada aja yang bikin dia gak mood, iri lihat orang hidup gampang, dan saat pelajaran olahraga fisik, dia hanya bisa duduk manis sambil lihat temannya ketawa-ketiwi. Kalo jam tidur biasanya orang lain langsung nyenyak tidur dikasur empuk, eh cewek ini malah gak boleh melupakan braces yang harus dipakainya tiap hari. Rasanya? sakit dan pastinya ada yang membekas kayak habis ditonjok di punggungnya akibat tekanan untuk menekan tulang atau pading. Sedih memang, tapi inilah realita yang harus dia hadapi.
Akan tetapi, baginya, Allah swt. itu baik banget. Allah menciptakan dan memberikan orang-orang baik kepada dia dan itulah yang membuat dia nyaman bahkan bersikeras untuk terus kuat hingga sekarang. Allah memang ngasih cobaan yang berat ini ke dirinya tapi bukannya ini bertanda Allah percaya dirinya bisa kuat ngehadapin cobaan ini? ia berkata, biarlah beberapa orang mengasihani dia tapi dia gak akan biarkan penyakit ini mengasihani dia sendiri. "Saya harus kuat", begitulah motivasi hidupnya untuk tangguh melawan penyakitnya. Apapun itu, bukankah suatu rencana pasti ada alasan?
Yakinlah, sebaik-baik yang kita lihat, belum tentu Yang Atas juga berpendapat baik. Suatu saat, Allah nantinya ngasi apa yang kita inginkan bahkan lebih baik dari yang kita harapkan. Memang, kita bisa merencanakan apapun, tapi bukankah Allah yang menentukan?
16 tahun, pelajar.

Anjr ngukuk
BalasHapusuuuuuuu so sad beybeh -temanygselalungajakkelaisidia
BalasHapusAstagfirullahaladzim ukhti
HapusMasya Allah mantep banget,sukak baca nya menginspirasi
BalasHapusAlhamdulillah dwi kalau bermanfaat, makasi udh membaca🙏🏼❤️
Hapus